Story Around League of Legends - Hasagi's Version Part III

sion-vs-riven-league_of_legends-fight-(5523)


“Penebusan Dosa Sang The Exile”


“Terdapat sebuah tempat di antara peperangan dan juga pembunuhan di mana iblis dari diri kita bersembunyi”
Jauh sebelum penyerangan Noxus terhadap benteng Demacia yang dipimpin oleh Komando Jericho Swain, ternyata Noxus juga telah melakukan invasi besar-besaran terhadap Ionia. Noxus yang berhasil membuat aliansi dengan orang-orang pintar dari Zauns membuat pasukan militernya semakin kuat dan tangguh.
ionia-placidiumnavori
Para jenderal tertinggi, kesatria yang pemberani dari Noxus dan ditambah juga ilmuan gila dari Zaun membuat penyerangan mereka terhadap Ionia semakin mulus.
acf6e62442bf1f8a0fe92ea2174ac44a
Dan Riven lah salah satu dari mereka yang menjadi saksi bisu dan orang yang bertanggung jawab atas pembantaian besar Noxus terhadap Ionia. Ribuan bahkan jutaan orang tak bersalah menjadi korban peperangan tersebut. Ratusan  mayat yang tergeletak di desa-desa kecil menjadi pemandangan yang begitu mengerikan, cucuran darah yang mengalir di tanah Ionia menjadi sebuah sungai kecil yang dihiasi dengan tinta merah. Tangisan anak kecil yang mencari-cari ibunya sangat menyayat hati begitu perih, jeritan dari mereka mampu menyiksa telinga. Bahkan setelah perang selesai pun tangisan dan jeritan dari penduduk Ionia masih saja terdengar.
Ionia kini tak lagi menjadi indah, udara segar dari Ionia berubah menjadi udara beracun akibat biokimia yang di ledakan oleh ilmuan gila dari Zaun.
Ionia_Master_Yi_Village
Semua ini tak sesuai yang diharapkan Riven Sesuatu yang awalnya dimulai dari peperangan, dengan cepat berubah menjadi pembantaian yang menjijikan. Aak ada satupun orang dari Noxus yang berperilaku layaknya seorang kesatria terhormat. Baginya kini Noxus hanyalah rombongan hewan yang lapar akan kekuasaan tak punya kehormatan apa lagi belas kasihan.
Rasa kecewa dan bersalah pun sangat dirasakan oleh Riven. Kini dia telah di anggap mati oleh Noxus yang pada akhirnya ini menjadi sebuah kesempatan baginya untuk mengasingkan diri dan memulai kehidupan baru untuknya.

Riven-League-Of-Legends-Fan-Art-6-360x400
Sudah beberapa tahun berlalu sejak pembantaian Noxus terhadap Ionia, tapi ingatan yang begitu mengerikan masih saja ada didalam pikiran nya. Walaupun kini dia telah berubah dan memulai hidup yang baru tapi rasa bersalah masih saja menghantui nya setiap saat.
Tanpa nama, tanpa setatus, dan tanpa tempat tinggal kini dia mengembara ke penjuru Valaron untuk melakukan penebusan dosa yang telah dia buat.
79d6ab82e9b476960e68726dbfbf87570200e2d5_hq
Sampai kini langkahnya terhenti di sebuah desa kecil sebelah timur dari Shurima, dia melihat ketentraman kedamaian dan ketenangan dari penduduk sekitar walaupun sangat terlihat jelas bahwa mereka adalah golongan orang-orang miskin yang banyak sekali akan kekurangannya.
Shurima_Ruins
Ada sekitar lima orang pemuda yang menaiki unta dengan membawa beberapa Ayam liar dan juga sekeranjang buah-buahan yang kurang segar. Nampaknya orang-orang tersebut baru selesai pulang berburu, kemudian mereka menurunkannya ditengah-tengah desa dan memberikannya kepada nenek-nenek tua. Nenek-nenek itu pun langsung memanggil semua warga untuk berkumpul dan segera menyiapkan dan memasak makanan hasil buruan dari lima orang pemuda tersebut.
Akhirnya mereka menikmati makanan dan membaginya secara rata ke semua warga di desa tersebut. Setiap orang diberi beberapa cuil daging dan juga potongan buah yang telah dipotong menjadi empat bagian. Riven tahu makanan yang sebanyak itu tidak akan mampu untuk mengenyangkan perut mereka. Riven sangat terharu sekaligus kagum melihat kebersamaan dari orang-orang di desa kecil itu. Walaupun mereka sangat kesusahan, tapi mereka mampu melewatinya dengan senyum dan keceriaan.
Canda tawa riang mengiringi mereka untuk menghabiskan makanan yang tak seberapa. Ini adalah pemandangan yang benar-benar tak pernah dia lihat sewaktu di Noxus dulu.
Si nenek tua yang mulai menyadari bahwa ada orang asing yang sedang melihat mereka, akhirnya memerintahkan beberapa warganya untuk memanggil Riven. dan Riven pun langsung ditarik untuk menemui nenek tersebut.
“Ma…ma…ma… maafkan aku. Aku hanya menumpang lewat. Da…da…da… dan tak ada niat untuk berbuat apa-apa” kata-kata Riven yang sangat gugup saat berbicara kepada nenek tersebut.
Nenek itu pun menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam!
Riven mulai menelan ludahnya kedalam tenggorkan serasa untuk menelan ketakutan nya saat melihat nenek tersebut, keringat mulai mengalir dari wajahnya “susus sungguh aku benar-benar hanya lewat dan tidak ada niat sama sekali untuk mengganggu kalian”
Nenek itu pun mulai berdiri mendekatkan wajahnya ke arah Riven dengan mata yang melotot, dan dia sambil berbicara “Nampaknya kau bukan berasal dari sini, siapa kau sebenarnya apa kah kau teman sirambut panjang?”
Si Nenek tua memandangi Riven mulai dari bawah sampai ke atas dengan tatapan yang mencurigakan tanpa berkedip sekalipun.
“Ohhh… aku tau nampaknya kau adalah kekasih sirambut panjang bukan” Riven mulai kebingungan dengan perkataan nenek-nenek tersebut, di dalam hatinya dia berbicara sebenarnya apa yang dibicarakan nenek-nenek ini?
Nenek itu pun langsung menarik tangan Riven dan berkata “Ahhh sudahlah tak penting itu hayu cepat ikut dengan ku”
Riven “Aku akan dibawa kemana?”
Nenek tua “Ya, tentu saja kita akan makan bersama”
Riven pun menjawab dengan kebingungan “Haahhh, makan?”
Nenek tua “Iya, makan. Aku tahu kau pasti kelaparan bukan? Dan kau pasti belum makan selama beberapa hari, karena di sini sangat sulit untuk mencari makanan. Orang asing sepertimu pasti akan kebingungan mencari makanan di daerah sini, dan bahkan kau bisa mati kelaparan, nak. Hahahaha.”
Riven benar-benar kebingungan, dia kira nenek-nenek tersebut ingin memarahi atau mengusirnya, tapi nyatanya nenek itu malah mengajaknya untuk makan bersama, “Maaf, tidak, nek. Aku tidak lapar, dan aku pun harus melanjutkan perjalananku”
Nenek tua “Perjalanan? apa kau bergurau, nak? sebentar lagi langit gelap. Di malam hari seperti itu kau akan berpergian kemana?”
“Saat malam hari, padang pasir sangat berbahaya bagi orang sepertimu yang belum mengenal tempat ini. Apalagi wanita secantik dirimu, pasti bakal banyak orang jahat yang akan mengganggumu nanti di perjalanan” 


Tidak hanya nenek itu, warga yang lain pun memaksa Riven untuk bermalam dulu di desanya. Dan ada seorang gadis kecil yang menarik-narik baju Riven untuk ikut bergabung untuk makan bersama. Akhirnya Riven pun menerima tawaran dari nenek tersebut.
Langit mulai gelap mereka pun mulai menyalakan api unggun untuk memberikan kehangatan dari dingin nya malam di padang pasir. Canda tawa riang menghiasi wajah mereka, obrolan dan saling berbagi cerita mereka lakukan untuk menghabisi malam, tak ada rasa ragu untuk saling berbagi, bahkan kepada Riven yang baru mereka kenal.
Kemudian seorang gadis kecil yang meanrik baju Riven tadi mulai mendekatinya “Hai,  apa aku boleh duduk di sampingmu?” tanya si gadis kecil kepada Riven.
Riven: “Tentu saja , ayolah kemari duduk bersamaku, kalau boleh aku tau namamu siapa?” 
Gadis kecil itupun duduk di samping Riven dan menjawab, “Aku Yana”
Riven: “Oh, Yana. Nama yang sangat indah seperti matamu”
Yana: “Apa kau tau ka, kau mirip seperti si rambut panjang? Apakah kau berasal dari tempat yang sama? Karena pakaian kalian berdua hampir mirip.”
Riven: “Si rambut panjang? Si rambut panjang itu siapa ?
Yana: “Dia itu adalah teman kami, dia yang selalu membantu dan menolong kami dari orang-orang bertubuh besar Shurima.”
“Dia juga selalu memberikan kami makanan di saat kami benar-benar kelaparan”
Riven: “Lalu sekarang si rambut panjang itu ada dimana?”
Yana: “Di saat malam hari dia selalu menyendiri di atas bukit sana, ka?”


Api unggun pun mulai padam, tak terasa semua warga sudah tertidur pulas, bahkan gadis kecil itupun tertidur sangat pulas di pelukan Riven. Angin malam yang mulai berhembus sangat kencang di gurun pasir membuat gadis kecil itu menggigil kedinginan. Akhirnya Riven menyelimuti Yana dan memeluk tubuhnya untuk memberikan kehangatan kepada gadis kecil itu.
Malam yang begitu cerah di terangi oleh indah nya bulan purnama membuat suasana begitu tenang dan damai yang bisa Riven rasakan, benar-benar suasana yang sangat berbeda sekali di medan pertempuran, “Rasanya aku merasa damai sekali di tempat ini, sepertinya ini adalah tempat yang cocok bagiku untuk merubah diri”.
Di saat Riven sedang menikmati malam tersebut, tiba-tiba ada suara merdu di atas bukit bebatuan. Nampaknya itu adalah suara dari sebuah seruling. Irama yang begitu merdu dan alunan yang sangat indah semakin membuat jiwa Riven menjadi tenang dan bisa melupakan sejenak tentang kenangan yang mengerikan dari peperangan.
Diiringi rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Riven mencoba untuk mencari suara suling tersebut dan mulai memanjat bukit bebatuan asal dari suara tersebut.
Sesampainya di atas bukit tiba-tiba suara suling itu menghilang dan tidak ada satu orang pun diatas bukit tersebut.
Riven “Kemana suara itu? Kenapa tiba-tiba menghilang?”
“Kenapa apa kau mencari suara dari sulingku” ada seseorang yang menjawab pertanyaan Riven tepat di belakangnya.
Riven langsung membalik dan bertanya “Siapa kau?” 
Pria itu pun menjawab “Akulah yang harusnya bertanya padamu.”
“Bukankah kau yang tadi mencari-cari suara sulingku? sebenarnya kau ini siapa? kenapa kau bisa berada dengan mereka?”


Melihat dari pakaian dan rambutnya yang terkuncir, nampaknya dia adalah si rambut panjang itu yang dibicarakan oleh Nenek tua dan juga Yana.
Riven pun menjawab “Aku hanyalah pengembara biasa yang hanya menumpang lewat dan singgah di desa ini.”
“Pengembara? Sebenarnya kau ingin pergi kemana? Nampaknya kau bukan dari Shurima. Dari mana kau berasal dan apa tujuanmu?”
Riven “Exile, itulah namaku. Entah, aku sendiripun tak tahu ingin pergi kemana, tanpa arah tanpa tujuan. Yang pasti aku ingin menebus dosa yang telah aku buat selama ini”
“Dosa? Dosa apa maksudmu.”
Riven “Itu adalah urusanku bukan urusanmu. Dari tadi kau hanya bisa bertanya saja, kau sendiri siapa dan aku juga sangat yakin kau bukanlah orang Shurima”
“Ya. Memang benar aku bukan dari Shurima. Sama sepertimu akupun hanya pengembara. Tapi tujuanku bukan untuk menebus dosa melainkan untuk mencari seseorang yang harus bertanggung jawab untuk apa yang telah dia buat”
Riven “Sudah kuduga pasti kau bukan dari Shurima, lalu kau ini siapa dan darimana asalmu?”

“Namaku Yasuo dari Ionia”
frsda

To Be Continued ……………………

Komentar